KEDUDUKAN ANAK BAGI ORANG TUA DALAM AL-QUR’AN

tangan ayah, ibu, dan anak
illusrasi: Levo League
Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi keluarga muslim. Semua persoalan hidup telah ada ketentuannya di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyampaikan bahwa anak dalam kedudukannya di dalam keluarga memiliki beberapa potensi bagi orang tuanya. Potensi tersebut bisa menjadi potensi baik, bisa jadi pula potensi buruk. Berikut ini kedudukan anak bagi orang tua di dalam Al-Qur’an:

Anak sebagi musuh bagi orang tua
“Wahai orang yang beriman! Sesungguhnya di atara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun  Maha Penyayang .” (QS. At-Tagobun:14).

Ada yang berpotensi menjadi musuh bagi orang tuanya. Dalam hal ini Allah memerintahkan bagi orang tua untuk berhati-hati. Anak menjadi musuh karena banyak menyusahkan orang tua dan berusaha menjerumuskan orang tuanya kedalam kemaksiatan kepada Allah. Anak tidak bisa memberikan manfaat yang bisa meringankan beban orang tua. Bahkan zaman saat ini tak jarang kita mendengar seorang anak yang tega membunuh orang tuanya.

Anak menjadi ujian dan fitnah bagi orang tua
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Tagobun: 15)

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang  besar” (QS. Al-Anfal: 28)

Anak bisa menjadi ujian bagi orang tuanya, sebab dengan memiliki anak bisa menjadikan orang tua lebih dekat kepada Allah SWT namun juga bisa membuat orang tua jauh dari Allah SWT.

Anak sebagai perhiasan dunia bagi orang tua
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi:46)

Adalah hal yang membanggakan ketika anak menjadi perhiasan bagi orang tuanya, sehingga anak menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tua dan keluarga. Namun di akhir ayat Allah SWT mengingatkan kita bahwa beribadah kepada Allah SWT, meluangkan waktu bersama Allah SWT jauh lebih baik dari kedekatan serta belas kasih yang berlebihan kepada anak.

Anak sebagai penyenang hati dan penyejuk mata orang tua(qurrota a’yun)
“Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan:74).

Kedudukan anak yang terbaik adalah sebagai penyenang hati dan penyejuk mata orang tua (qurrota a’yun). Mereka adalah anak-anak yang jika diperintahkan untuk beridah segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Dari empat kedudukan anak di dalam AL-Qur’an, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun, hal tersebut tidak bisa dicapai dengan instan, diperlukan keseriusan, keteladanan dan ketekunan orang tua dalam membina mereka. Orang tua harus menjadi figure atau teladan untuk anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya.

Jika orang tuanya rajin shalat berjamaah, maka anak pun akan mudah di ajak untuk shalat berjamaah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka pun akan mudah menirunya. Dan yang tidak kalah pentinya adalah oran tua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman bergaul juga sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak.

Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita, sehingga anak-anak kita bisa menjadi qurrota a’yun baik di dunia maupun di akhiran.

Dikuti majalah Yatim Mandiri/ Edisi Desember 2017/Rubrik Smart Parenting

Pojok Hadist
Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakan rezekinya, hendaklah ia menyambung tali persaudaraaan. (HR. Bukhari-Muslim)
  

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.