JIHAD AN-NAFS

lelaki sedang duduk termenung
Ilustrasi
Oleh: Drs. Usman Daud, MA.
(Konsultan Hukum Islam Dan Kerluarga)

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penganmpun Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53).

Hidup ini adalah perjuangan melawan hawa nafsu yang timbul dari luar diri manusia. Kadalangkala, kita menang kadangkala kita kalah melawan hawa nafsu setan kita. Imam Ghazali menyebut ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadapt hawa nafsu yang pertama, nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman berhasil melawan hawa nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik dari pada yang buruk.

Yang kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali diri sendiri), yakni ketika iman kadangkala menang kadangkala kalah melawan hawa nafsu, perbuatan baiknya seimbang dengan perbuatan buruknya. Yang ketiga, adalah nafsu la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman kalah dibandingkan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak berbuat yang buruk daripada yang baik.

Memang, salah satu ciri orang yang termasuk nafsu muthmainnah adalah segera sadar dan gelisah terhadap perbuatannya yang buruk. Walaupun ia melakukan perbuatan buruk yang kecil, tetapi sudah dianggapnya besar, sehingga ia selalu hati-hati dalam melangkah. Bersyukur kepada Allah SWT, karena manusia memiliki ‘sensitifitas yang tinggi’ terhadap perbuatan dosa. Dan ini adalah ciri orang-orang yang bertaqwa. Karena itu sebaiknya kita segera meninggalkan perbutatan yang dibenci Allah sebelum jauh  melangkah.

Sedangkan untuk mengendalikan hawa nafsu, sebaiknya kita melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.       Banyak melakukan ibadah, terutama ibada-ibada sunnah (shalat dhuha, tahajud, baca AL-Qur’an, dan lainnya).
2.       Minta kepada Allah dengan sungguh-sungguh (berdoa) agar keinginan Anda semakin kuat untuk meninggalkan hal-hal yang buruk.
3.       Meyakini imbalan besar yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Kuatkan keyakinan tersebut dengan banyak berdzikir dan beribadah kepada-Nya.
4.       Jaga panca indera kita dari pengaruh syahwat (nafsu). Jaga mata kita agar tidak melihat hal-hal yang berbau maksiat, jaga pendengaran dari pembicaraan yang kotor, jagar mulut dari berkata-kata yang cabul, dan jaga tangan serya kaki kita untuk tidak menjamah atau melangkah ke hal-hal yang berbau maksiat.
5.       Jaga pikiran kita dengan selalu berpikir positif dan produktif yang akan didapat dari banyak membaca yang positif dan hindari juga lingkungan yang membangkitkan hawa nafsu kita.

Seseorang yang dapat mengangkat beban yang sangat berat terkadang tidak mampu mengangkat selimunya untuk menunaikan shalat subuh atau Tahajud.

Seorang yang melakukan perjalanan jauh terkadang tidak mampu berjalan ke mesjid untuk menunaikan shalat berjamaah.

Hal ini membuktikan, melawan godaan yang datang dari diri sendiri lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang  nyata dari luar.

Menaklukkan hawa nafsu dan melawan godaan-godaan setan ternyata lebih berat daripada melawan musuh Islam. Wallahu a’lam.

Dikutip majalah Yatim Mandiri/Edisi Juni 2016


Pojok Hadist
Istigfar dengan lisan adalah kebaikan meskipun diucapkan di luar kesadaran. Ia lebih baik dari ucapan lidah tentang keburukan orang lain atau kebaikannya." (Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.