OBAT ITU BERNAMA SHALAT

shalat berjamaah di mesjid
Ilustrasi: Muslims offer Eid prayers at the Jama Masjid, Delhi | Reuters
Oleh: Anton Ismunanto (pengasuh Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta)

Hari-hari itu, situasi menjadi semakin tidak menentu. Kondisi yang harus dihadapi umat Islam semakin sulit . Pria itu benar-benar terpuruk. Meski ia benar-benar faham, bahwa Allah SWT adalah satu-satunya tempat bersandar terbaik dan satu-satunya penolong.

Namun, hilangnya orang-orang yang dicintainya, tetap tidak mudah direlakan. Kematian mereka, memberikan bekas menganga di dalam hatinya.

Ia terlahir dalam kondisi ayahnya telah kembali ke sisi Tuhan. Ketiadaan sosok ayah membuat kesadaran kecilnya terbentuk, bahwa Allah-lah tempat mengadu. Meski saat itu, masih samar dalam pandangannya, siapakah Allah, Rabb semesta raya. Tapi hati bersihnya merasakan betapa kuat sapaan Allah SWT kepada dirinya.

Saat usianya masih belum genap lima tahun, gentian ibunya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Betu, bahwa ia tidak sepenuhnya di asuh oleh sang ibu. Tetapi, hilangnya sosok ibu semakin menguatkan kesadarannya tentang Allah SWT.

Pengasuh yang paling banyak membentuk karakternya kemudian adalah kakeknya. Sang kakek, merupakan tokoh masyarakat yang sering membawanya turut dalam pembicaraan dengan sesama pembesar kaum. Secara perlahan jiwa kepemimpinan dan karakter orang besar itu, tertanam dalam dirinya. Namun, itupun tidak lama. Untuk kesekian kalinya, Allah SWT ingin agar dirinya hanya bersandar dan berharap kepada-Nya, pemilik akhirat dan dunia.

Semua proses itu semakin membuatnya semakin mantap. Allah SWT mengajarinya tentang kekuatan dari berserah dan tawakkal kepada Pemilik semesta raya. Bahkan ketika ia harus menjadi penggembala, lalu sebagai pedagang muda yang sangat terpecaya, hingga setelah menikah, ia menjelma menjadi seorang lelaki yang terpandang di masyarakat.

Semua itu, Allah SWT sudah persiapkan agar ia menjadi Nabi dan Utusan yang akan membawa kaumnya bergerak dari kesesatan, menuju terang cahaya kebenaran.

Tetapi tahun itu, nabi Muhammad merasakan kesedihan luar biasa. Khadijah, istrinya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Karena ialah orang pertama yang mempercayai kenabiannya. Ia pula yang menopang dakwah Muhammad dengan jiwa, raga dan seluruh hartanya.

Namun di ujung tahun tersebut, Allah memberikan kepada Muhammad SAW. Hiburan yang luar biasa. Disatu malam, Buraq membawanya dari masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, hanya dalam waktu beberapa saat saja.

Yang lebih agung lagi, Allah berikan hadiah istimewa untuk umat manusia. Allah wajibkan kepada kita, ibadah shalat yang penuh makna. Ibadah itulah merupakan cara terbaik seorang hamba bertemu Tuhannya. Allah katakan, “Wasta’inu bish shabari wash shalat,” (minta tolonglah kalian melalui sabar dan shalat).

Jadi kalau anda menemukan masalah apapun, shalatlah. Di satu ketika nabi SAW merasakan kelelahan dalam dakwah, ia berkata kepada Bilal, “Ya Bilal, arihnaa bish shalat,” (wahai Bilal, berikan kita rehat melalui shalat).

Sedang di lain waktu, nabi Muhammad SAW mengatakan, “Wa qurrata ‘aini fish shalaat,” (dan kesejukan shalatku ada pada shalat).

Maka saudaraku sekalian, mari tegakkan shalat karena didalamnya terdapat kebahagiaan. Wallahu a’lam wa huwal musta’an.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.