Keikhlasan Dan Pengorbanan Oleh: Drs. Usman Daud, M. A (konsultan hukum Islam dan Keluarga)

ilustrasi nabi Ibrahim akan menyembelih nabi Ismail
ilustrasi
Firman Allah: tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggilah dia: “hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan (Qibas) yang besar”. QS. As-Shoffat/37:103-107.

Dalam cara faham tentang ikhlas menurut kalangan Salaf, mereka berkata: Ikhlas itu adalah suatu amal yang dilakukan hanya untuk Allah yang jauh dari sikap dan sifat riya’ dan sum’ah. Pengorbanan berasal dari kata korban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengobanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengharapkan suatu imbalan maupun pamrih dari orang lain.

Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tampa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, tenaga, biaya, dan perasaan. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

Sebagai ciptaan tuhan wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan merupakan perwujudan tanggunggjawab kepada Tuhan. Akan halnya apa yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Ismail adalah amaliya monumental yang menuntut keikhlasan dalam pengorbanan bahkan merupakan puncak dari semua bentuk pengabdian dan pengorbanan yang pernah ada dimuka bumi. Para ulama yang mengajarkan tentang nilai-nilai tauhid dalam pengorbanan mereka berkata: “Ibrahim dan Ismail melakukan sesuatu perbuatan yang kecil yang menjadi jalan untuk menuju pada sesuatu yang lebih besar dan lebih bermakna yakni penghambaan diri kepada Allah secara total, utuh dan tidak bertepi dan memiliki komitmen yang unggul yang melahirkan kebersamaan, cinta, kasih, dan sayang. Semua itu untuk mewujudkan nilai-nilai spiritual berupa mahabbatullah, jangan sampai cinta mengalami degradasi dan jatuh pada mahabbatullah adna (cinta yang rendah dan tidak bermakna). Baca QS. al-An’am/6: 163.

Dalam hikmatut tasyri’ Allah swt menjadikan Qurban dengan keikhlasan yang tinggi sebagai salah satu dari syi’ar- syi’ar Allah di dalam agama-Nya karena memiliki tujuan yang amat tinggi yaitu taqrrub kepada Allah Swt dan mencari ampunan dan keridoaan-Nya. Tidak lepas dari itu semua, keikhlasan dan pengorbanan memiliki nilai-nilai sosial yang tinggi dan hubungan yang harmonis dengan orang yang lebih baik dalam iman, akhlak, maupun ekonomi. Takutlah kita kepada Allah dari do’a dua orang makhluk yang paling lemah di muka bumi ini yaitu orang-orang yang janda dan orang-orang yanh miskin. Wallahu a’lam.        
Dikutip majalah Yatim Mandiri/Edisi September 2017

Pojok Hadist
Saya pernah menemui Rasulullah sedangkan saya mengenakan kain sarung yang bergerak-gerak mengeluarkan bunyi maka maka beliau bersabda, siapa ini? Maka saya berkata, Abdullah bin Umar. Beliau bersabda, jika kamu adalah Abdullah, maka angkatlah kain sarungmu. Maka saya meninggikan kain sarungku hingga setinggi setengah betis.” Demikianlah cara berkainnya hingga meninggal dunia. (HR. Ahmad)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.