JANGAN TENGIL
![]() |
| Ilustrasi |
Sebagai umat muslim di zaman milenial selayakanya tidak hanya pandai berbahasa Inggris dan Arab, melainkan juga pandai menggunakan bahasa hati. Orang yang ada penyakit di hatinya, tidak akan bisa bersilaturahim. Bahkan ia akan selalu menghindar dan selalu menghindar. Silaturahim pun tidak cukup dengan salaman, sebatas ngobrol, tapi juga harus dengan bahasa hati.
Untuk bisa menggunakan bahasa hati dengan baik, sebagai muslim kita tidak boleh tengil, yang maknanya takabur, egois, norak, galak, iri hati, dan licik.
Jangan pernah takabur, karena tidak akan masuk surga jika masih ada sifat takabur. Orang yang sombong dan takabur adalah orang yang mendustakan kebenaran dan meremehkan orang lain.
Jauh lebih wibawa, jika seorang pemimpin minta saran kepada bawahannya, mau dikoreksi, tidak alergi dengan masukan dan kritikan. Itulah tanda orang tawadhu. Orang tua atau atasan jangan cuma bisa nyuruh atau menghakimi. Jika ada yang melakukan kesalahan, maafkan. Jika suami ada kekurangan, istri jangan dibongkar di depan anak-anak. Begitu juga sebaliknya.
Intinya adalah jangan remehkan orang lain. Tidak akan rugi untuk menjadi orang yang rendah hati. Jika menyuruh orang lain misalnya, gunakan kata permisi, maaf, tolong ambilkan ini. Jika ingin punya anak sopan, maka orang tua harus baik pada pembantu.
Jadikanlah hidup ini yang orientasinya bermanfaat untuk orang banyak. Jangan cuma menguntungkan diri, tapi juga menguntungkan banyak orang. Mengalahlah untuk kebaikan. Orang yang mulia adalah orang yang senang berkorban. Jangan pamrih. Ikhlas tidak perlu diucapkan. Yakinilah setiap perbuatan ada balasannya. Allah akan membalas perbuatan baik dan buruk sekecil apapun.
Lalu, jangan norak atau ingin selalu kelihatan hebat, ingin dipuji, ingin dibalas budi baiknya. Hendaknya kita just the way you are. Para istrinya hendaknya jangan terlalu cinta pada suami, tapi cintailah penciptanya. Jika terlalu cinta pada suami, maka tidak ada keikhlasan dan tidak ada kebahagiaan. Berharaplah hanya kepada Allah.
Sikap selanjutnya adalah jangan galak. Galak berbeda dengan tegas. Jika ada persoalan jangan marah-marah, marah itu sumber masalah, bukan solusi. Buatlah aturan secara tertulis, tapi jangan kita yang buat aturan, lalu kita juga yang melanggar. Jadi bukan galak, tapi tegas dan santun. Jangan pernah keras pada wanita. Bersikaplah sabar, banyaklah istigfar, jangan debat kalau ada masalah.
Kemudian, jangan iri hati. Jangan pernah senang dengan kesusahan dan penderitaan orang lain.
Yan terakhir adalah jangan licik. Siapapun ingin kejujuran. Bahkan, penjahat pun ingin mencari teman yang jujur. Janganlah tertipu dengan topeng. Suami yang punya pangkat, istri yang berlagak seperti pejabat. Seperti video seorang istri jenderal yang menempeleng petugas bandara yang kemudian menjadi viral. Juga banyak anak yang bersembunyi di balik topeng ortu, padahal kelakuannya jelek.
Rumus obat penyakit hati itu adalah bertobat. Perbanyak istigfar, hisab diri sebelum kita di hisab. Istigfar dapat melapangkan hati dan diberi rezeki, karena hati yang terbuka oleh hidayah dapat melihat berbagai peluang dan kesempatan yang tidak dilihat oleh orang lain.
Wallahu’alam.
Dikutip majalah Yatim Mandiri/Edisi Desember 2017
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. dan aku orang yang paling baik pada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tidak ada komentar: