RUMAH SAKIT DALAM SEJARAH ISLAM

ruang operasi
Ilustrasi
Abad pertengahan merupakan masa kejayaan umat Islam. Islam unggul dalam ilmu pengetahuan dan peradaban atas umat lainnya. ilmuwan-ilmuwan lahir dan memberi sumbangan besar bagi dunia. 

Oleh: Mahardi Purnama

Diantara sumbangsih Islam pada dunia adalah lahirnya rumah sakit-rumah sakit sebagai tempat mengobati orang-orang sakit dan tempat para ilmuwan mendalami ilmu kedokteran. Padahal sebelum masa kejayaan Islam, dunia belum mengenal konsep rumah sakit. 

Dalam bukunya “Madza Qaddama Al-Muslimum Lil Alam”, prof. Raghib As-Sirjani mencatat bahwa rumah sakit pertama didirikan pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, seorang Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 705 sampai 715 M. Rumah sakit tersebut dikhususkan untuk menampung dan mengobati penyakit lepra yang saat itu mewabah. Khalifah bin Walid membayar para dokter dan perawat untuk mengobati para pasien. 

Ada pula yang berpendapat bahwa rumah sakit Islam sebenarnya di bangun di Baghdad pada masa Khalifah Harus Ar-Rasyid Al-Abbasi yang berkuasa 786 sampai 809 M. Setelah rumah sakit Baghdad berdiri maka muncul rumah sakit-rumah sakit lainnya di dunia Islam.

Rumah sakit Islam yang dibangun melayani semua pasien tanpa membedakan agama, ras, dan latar belakang. Para dokter rumah sakit telah menerapkan pemisahan bangsal. Pasien laki-laki dan perempuan ditempatkan di bangsal yang terpisah. Penderita penyakit menular ditempatkan terpisah dengan pasien lainnya. Hal ini menunjukkan kemajuan rumah sakit Islam. 

Pihak rumah sakit juga memperhatikan kamar mandi dan pasokan air. Air merupakan kebutuhan setiap muslim karena mereka harus bersuci sebelum melaksanakan shalat. Di rumah sakit, tidak sembarangan dokter yang bisa berpraktik. Hanyak dokter-dokter berkualitas yang diizinkan untuk mengobati pasien di rumah sakit. dokter yang mendapat izin praktik di rumah sakit hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat. Khalifah Al-Muqtadir Al-Abbasi contohnya, ia memerintahkan kepala dokter istana, Sinan bin Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad.

Rumah sakit pada zaman kekhalifahan tidak hanya sekadar  tempat merawat dan mengobati orang sakit tetapi juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar bagi mahasiswa kedokteran dan pusat penelitian. Rumah sakit besar dan terkemuka dilengkapi dengan perpustakaan yang mengoleksi berbagai macam buku. Rumah sakit juga dilengkapi dengan auditorium untuk perkuliahan dan pertemuan serta dilengkapi dengan perumahan mahasiswa kedokteraan dan staf rumah sakit di kompleks rumah sakit. 

Ahli Kedokteran Muslim
Seiring berdirinya rumah sakit-rumah sakit di berbagai negeri Islam maka lahir pula para ilmuwan. Di antaranya adalah Abu Bakar Al-Razi adalah pelopor dalam bidang klinik kedokteran. Ia yang pertama kali melakukan eksperimen pengobatan kepada hewan sebelum dipraktekkan kepada manusia. Metode ini yang hingga sekarang menjadi pedoman terpenting bagi kedokteran modern.

Salah satu karyawanya yang terkenal adalah kitab al-Hawi yang merupakan buku ensiklopedia kedokteran yang meliputi semua ilmu pengetahuan kedokteran Arab, Yunani, India. Dalam ensiklopedia itu, dia banyak menambah pengetahuan baru sesuai pengalaman dan penemuannya. Buku ini menjadi rujukan penting bagi dunia kedokteran Islam maupun Eropa hingga abad ke-18. Selain Ar-Razi, lahir juga ahli kedokteran lainnya seperti Ibnu Sina dan Abdu Qasim Az-Zarawi, serta masih banyak lagi. 

Dikutip surat kabar harian Amanah/ Edisi kamis, 13 Oktober 2016/ rubrik ensiklo

Pojok Hadist
Bantal Rasulullah yang biasa beliau bersandar kepadanya adalah terbuat dari kulit yang isinya serabut. (HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.