TIAP TETES DARAHNYA MENGGUGURKAN DOSA

 
daun gugur
ilusttrasi: Lady
“Wahai Fatimah, bangkit dan saksikanlah penyembelihan kurbanmu, karena sesungguhnya Allah mengampunimu atas setiap dosa yang dilakukan dari awal tetesan darah qurban, dan katakanlah:” sesungguhnya shalatku, ibadah (qurban) ku, hidupku dan matiku lillahi rabbil ‘alamin, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan oleh karena itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang paling awal berserah diri” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaq)

Ibadah kurban merupakan pendidikan keikhlasan dalam beramal. Niat kurban itu hanya untuk dan demi menuju ridha Allah semata (Taujiihul ‘ibaadah Libtaghaai Mardhootillah). Tidak boleh disertai kepentingan lain, selain lillahi rabbil ‘alamin. Syi’ar kurban bukan pula ajang pamer kekayaan dan kemewahan, melainkan kebanggaan dan keunggulan dalam beribadah yang ditujukan hanya untuk Allah yang Maha Kaya, sebagaimana bunyi do’a: “warzuqnaa wa anta khairur-raaziqiin,” Ya Allah, beri kami rezeki, sebab Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Maidah).

Allah ingin menanamkan pembelajaran motivasi pada kita semua, agar melepaskan baju kepentingan apapun, di luar kepentingan Tauhidullah semata. Dan ini tercermin dalam do’a kurban “Bismillaahi wallahu akbar, allahumma minka walaka, Allahumma Taqobbal Minnii” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari-Mu dan hanya untuk-Mu. Ya, Allah, terimalah qurban ini dariku).

Seorang Muslim yang berkurban pada setiap tahunnya berarti ia telah melakukan sebuah latihan beramal yang diliputi oleh rasa ikhlas. Ikhlas dalam beramal merupakan salah satu kunci dalam berbadah kurban, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim. Teladan nabi Ibrahim merupakan sebuah contoh yang sangat monumental yang patut dicontoh oleh generasi Muslim sepanjang zaman. Perjuangan dan pengorbanan nabi Ibrahim serta anak beliau nabi Ismail yang berjuang menaklukan godaan syaithan. Syaithan membujuk mereka supaya mengurungkan perintah Allah dengan tidak perlu menyembelih putera tersayang Ismail yang remaja belia yang diharapkan menjadi pengganti dan meneruskan cita-cita menegakkan dan mendakwahkan kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam.

Kalau bukan karena kecintaan pada Allah SWT dan keyakinan yang mendalam atas keagungan dan kebesaran serta rahmat-Nya, maka mustahil seseorang mampu mengorbankan sesuatu yang berharga yang merupakan milik satu-satunya yang dimilikinya. Inilah puncak kencintaan dan ketulusan kepada Allah, yang sengkaligus merupakan bukti nyata nabi Ibrahim a.s yang telah benar-benar lulus menghadapi ujian yang sangat serius dari Allah. Kenyataan ini merupakan contoh teladan yang baik sekali bagi manusia dan kemanusiaan yang secara fitrah manusia itu cenderung kepada penghambaan diri hanya kepada Allah, yang dimanifestasikan dalam bentuk ibadah. Karena untuk kepentingan berbadah itulah manusia itu diciptakan oleh Allah. Dan dengan jiwa keibadahan itulah manusia mampu mencapai kesucian jiwa.


Dikutip dari majalah Yatim Mandiri/Edisi September 2017/ rubrik Bekal Hidup.

Pojok Hadist
Apabila seseorang menjenguk saudaranya atau mengunjunginya maka Allah berfirman, engkau dan langkahmu baik serta engkau akan menempati suatu tempat di Surga. (HR. Ibnu Hibbanl).

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.